Jumat, 18 Juni 2010

METODE ILMIAH KAJIAN FILSAFAT ILMU

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kita ketahui bersama, bahwa di era post-modern saat ini telah begitu banyak ditemukan penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan. Penemuan-penemuan tersebut dapat kita rasakan hampir dalam segala bidang dan lingkungan di mana kita berada. Misalnya, keberadaan ilmu tekhnologi yang semakin hari semakin canggih.
Hasil penemuan baru tersebut tentunya melalui sejumlah proses yang memakan waktu cukup relatif panjang. Hal ini (semakin pesatnya penemuan-penemuan baru) merupakan suatu yang tidak dapat terelakkan lagi, karena ia merupakan tuntutan dari keberadaan manusia itu sendiri, yakni keberadaan kebutuhan dan keinginan manusia yang semakin tinggi dan beragam.
Di dalam proses penelitian tentang suatu ilmu tersebut maka diperlukan yang namanya metode ilmiah sebagai jalan untuk meraih hasil yang sesuai dengan keilmuannya. karena itulah kami mengambil judul tersebut sebagai topik utama dalam makalah ini.
B. Tujuan
Pada dasarnya tujuan penulisan makalah ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu tujuan umum dan khusus. Tujuan umum dalam penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Filsafat Ilmu.
Adapun tujuan khusus dari penyusunan makalah ini adalah untuk memberikan informasi dan menambah wawasan kepada pembaca mengenai metode ilmiah yang mencakup:
1. Pengertian dari metode
2. Perbedaan metode dan metodologi
3. Pengertian dari ilmu,ilmiah,dan ilmu yang ilmiah
4. Pembagian ilmu berdasarkan objek yang diamati dalam metode ilmiah beserta cirinya
5. Pengertian dari metode ilmiah
6. Pola umum metode ilmiah
7. Macam-macam dari metode ilmiah
8. Pembagian dari metode siklus-empirik
9. Pembagian dari metode linear?
C. Sistematika
1. Pendahuluan
2. Isi (Pertanyaan Ilmiah dan Jawaban)
3. Peta Konsep
4. Kesimpulan

BAB II
PERTANYAAN ILMIAH

1. Apa pengertian dari metode?
2. Apa perbedaan metode dan metodologi?
3. Apa pengertian dari ilmu,ilmiah,dan ilmu yang ilmiah?
4. Sebutkan dan jelaskan pembagian ilmu berdasarkan objek yang diamati dalam metode ilmiah beserta cirinya?
5. Apa pengertian dari metode ilmiah?
6. Sebutkan dan Jelaskan pola umum metode ilmiah?
7. Sebutkan dan jelaskan macam-macam dari metode ilmiah?
8. Jelaskan pembagian dari metode siklus-empirik?
9. Jelaskan pembagian dari metode linear?

BAB III
JAWABAN
1. Metode berasal dari bahasa Yunani ‘Methodos’ yang berarti jalan. Sedangkan dalam bahasa latin ‘methodus’ berarti cara. Metode menurut istilah adalah suatu proses atau atau prosedur yang sistematik berdasarkan prinsip-prinsip dan teknik-teknik ilmiah yang dipakai oleh suatu disiplin (bidang studi) untuk mencapai suatu tujuan. Jadi, ia dapat dikatakan sebagai cara kerja ilmiah.
2. Metodologi bersangkutan dengan jenis, sifat dan bentuk umum mengenai cara-cara, aturan-aturan dan patokan-patokan prosedur. Jalannya pendidikan, yang menggambarkan bagaimana ilmu pengetahuan harus bekerja. Sedangkan metode bersangkutan dengan cara kerja dan langkah-langkah khusus penyelidikan secara sistematik menurut metodologi itu, agar tercapai suatu tujuan, yaitu kebenaran ilmiah. Jika dibandingkan antara metode dan metodologi, maka metodologi lebih bersifat umum dan metode lebih bersifat khusus.
3. Sebelum menjelaskan ilmiah terlebih dahulu harus mengetahui dulu ilmu. Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Pengertian “Ilmiah” secara istilah dapat diartikan sebagai sesuatu hal yang bersifat keilmuan/sains (pemahaman tentang sesuatu yang dapat diterima secara logika/akal/pikiran/penalaran). Ilmu yang ilmiah (Ilmu Pengetahuan) adalah ilmu yang diperoleh dan dikembangkan dengan mengolah atau memikirkan realita yang berasal dari luar diri manusia secara ilmiah, yakni dengan menerapkan Metode Ilmiah.
4. Berdasarkan objek yang diamati dalam metode ilmiah,maka ilmu dibagi menjadi dua bagian yaitu:
a. Naturwissenschaft
Istilah jerman naturwissenschaften berarti ilmu kealaman yang objeknya adalah benda-benda fisik. Termasuk dalam tipe ilmu-ilmu kealaman adalah ilmu-ilmu seperti ilmu-ilmu fisika, kimia dan biologi, serta ilmu-ilmu khusus lain yang merupakan pengkhususan lebih lanjut ataupun cabang-cabang dari ilmu-ilmu tersebut, yang selanjutnya berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri, misalnya Fisiologi, Anatomi dan sebagainya.
Ciri dasar pertama yang menandai ilmu-ilmu kealaman adalah bahwa ilmu-ilmu itu melukiskan kenyataan menurut aspek-aspek yang memungkinkan registrasi indrawi secara langsung. Data-data indrawi yang merupakan objeknya harus dimengerti tepat menurut penampakannya, dalam keadaan luas, keras, tinggi dan sebagainya. Bahan-bahan ini disaring, diselidiki, dikumpulkan, diawasi, diidentifikasi, dan diklasifikasi secara ilmiah, yaitu digunakannya instrumen-instrumen sebagai alat bantu. Perkembangannya sebagai ilmu alam modern dewasa ini, maka registrasi indrawi tersebut dilakukan alam wujud eksperimen. Eksperimentasi ilmu-ilmu kealaman mampu menjangkau objek potensi-potensi alam yang semula sulit diamati, seperti elektron dan ini protein (Van Melsen, 1982).
Ilmu-ilmu kealaman memperoleh suatu objektivitas yang khas, yaitu semata-mata bersifat empiris-eksperimental. Ciri selanjutnya dari ilmu-ilmu kealaman adalah bahwa ada suatu determinisme dalam objeknya, sedemikian rupa sehingga suatu aksi tertentu niscaya menimbulkan reaksi tertentu pula. Hukum aksi-reaksi ini berlangsung menurut sifatnya yang spesifik, karena itu eksperimen-eksperimen yang dilakukan pada prinsipnya dapat diulang. Selain sifat penelaahannya meliputi beberapa variabel dalam jumlah yang relatif sedikit, gejala fisik yang diamati pada umumnya seragam.
b. Geisteswissenschaften /the humanities
Geisteswissenschaften berarti ilmu-ilmu budaya atau ilmu-ilmu yang objeknya adalah hasil atau ekspresi roh manusia. Geisteswissenschaften sering disebut ilmu-ilmu sosial ataupun ilmu-ilmu human/kemanusiaan, yang dalam kerangka penulisan ini untuk selanjutnya digunakan istilah ilmu-ilmu sosial-humanistik. Ilmu yang termasuk dalam ilmu-ilmu sosial-humanistik ini antara lain adalah Ekonomi, Sejarah, Sosiologi, Antropologi sosial/budaya, Ilmu Hukum, Psikologi (untuk sebagian), Ilmu Bahasa, dan Ilmu Komunikasi (Theodorson, 1970)
Ilmu-ilmu sosial humanistik seringkali disebut juga ilmu-ilmu tingkah laku (Behvioral science) dan melalui istilah Geisteswissenschaften tercakup pengertian luas, sehingga kerap kali mencakup juga ilmu pengetahuan budaya. Ilmu-ilmu sosial humanistik ini bersangkutan dengan aspek-aspek tingkah laku manusiawi, sebab pada dasarnya berobjekkan hasil atau ekspresi roh manusia yang dalam wujudnya tampak sebagai bahasa, permainan, syair, agama, institusi (bentuk –bentuk kelembagaan)(Bakker, 1986). Objek ilmu-ilmu sosial humanistik ini merupakan gejala yang dapat diamati dan dinalar sebagai suatu fakta empiris, tetapi sekaligus termuat didalamnya arti, nilai, dan tujuan. Hal ini senantiasa terkait pada kenyataan bahwa manusia berbeda dengan binatang dan benda-benda fisik lainnya, hidup alam, dunia yang terdiri dari barang-barang yang dibuatnya sendiri serta dalam tujuan-tujuan yang dipikirkannya dan diterapkannya sendiri. Lapangan penyelidikan ilmu-ilmu sosial humanistik meliputi apa yang diperbuat manusia dalam dunianya serta yang dipikirkan tentang dunia tersebut (Rickman, 1967). Ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu humanistik mempunyai ciri yang khas, yaitu normatif-teologis. Ilmu-ilmu sosial dan humanistik menemukan arti, nilai, dan tujuan.
5. Metode ilmiah merupakan suatu prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan baru atau mengembangkan pengetahuan yang telah ada.
6. Pola umum langkah metode ilmiah
Bersesuaian dengan Jujun S.S.(1987), Titus dkk menjelaskan enam pola umum langkah metode utuk memperoleh pengetahuan yaitu:
a.Kesadaran adanya problema
Kesadaran akan adanya problema adalah penting sekali.karena hanya demikian suatu pemikiran dan penyelidikan itu mungkin untuk diawali. Dalam hal ini, kemampuan untuk melukiskan problema secara jelas dan benar dalam suatu definisi adalah penting. Karena hanya dengan demikian pula pengumpulan data yang faktual baru mungkin.
b.Pengumpulan data
Pengumpulan data yang relevan, yang juga memerlukan kesabaran dan lebih-lebih kemampuan untuk menguji data-data apakah faktual atau tidak. Pada persoalan yang sulit, untuk mendapatkan data-data seperti itu, memerlukan pemikiran dan penyelidikan yang saksama dan tidak aneh jika memerlukan waktu bertahun-tahun.
c.Penertiban data
Dalam masalah ini, diperlukan kemampuan analisis dan pengelompokan. Bagi metode ilmiah, memperbandingkan dan mempertentangkan data yang satu dengan data yang lain untuk diatur dalam urutan yang sesuai dengan kepentingan adalah pokok. Jadi, setiap data harus diberi nomor, dianalisis, dan diklasifikasikan.
d.Pembentukan Hipotesis
Langkah ini penting ketika melakukan pemeriksaan problem. Hipotesis dapat dibentuk setelah diperoleh data-data yang cukup. Dalam membentuk hipotesis, hal yang penting adalah harus bersifat masuk akal. Artinya, suatu deduksi harus dapat dicoba dan berfungsi sebagai petunjuk bagi penyelidikan selanjutnya.
e.Penarikan deduksi/kesimpulan dari hipotesis
Maksudnya, hipotesis menjadi dasar penarikan deduksi atau kesimpulan mengenai jenis susunan dan hubungan antara hal-hal atau benda-benda tertentu yang sedang diselidiki.
f.Verifikasi
Masalah pengujian kebenaran dalam ilmu pengtahuan, keputusan akhirnya terletak pada fakta. Jika fakta tidak mendukung suatu hipotesis, maka hipotesis lain dipilih. Dengan demikian selanjutnya, kecuali fakta (data empirik), kaidah umum, atau hukum tersebut telah memenuhi persyaratan pengujian empiris. Terhadap hal ini, kaum rasionalis menyatakan bahwa suatu hipotesis baru bisa diterima secara keilmuan bila konsisten dengan semua hipotesis yang sebelumnya telah diuji kebenarannya.
7. Macam-macam metode ilmiah berdasarkan objek pengamatannya dibagi menjadi dua yaitu:
a.Metode siklus-empirik. Metode siklus-empirik ini menunjukan pada dua macam hal yang pokok, yaitu siklus yang mengandaikan adanya suatu kegiatan yang dilaksanakan berulang-ulang, dan empirik yang menunjukan pada sifat bahan yang diselidiki, yaitu hal-hal yang dalam tingkatan pertama dapat diregristasi secara indrawi. Metode ini digunakan dalam ilmu-ilmu kealaman (naturwissenschaft).
b.Metode linier. Metode linier pada umumnya digunakan dalam ilmu-ilmu sosial dan humanistik (Geisteswissenschaft yang dalam bahasa inggris dikenal sebagai the humanities).
8. Metode siklus-empirik ini mencakup lima tahapan yang disebut observasi, induksi, deduksi, eksperimen, dan evaluasi.Watak siklusnya tampak dalam hal bahwa setelah melakukan evaluasi, dimungkinkan dilakukannya lagi observasi-observasi yang kemudian dilanjutkan dengan tahapan-tahapan selanjutnya. Sifat ilmiahnya terletak pada kelangsungan proses yang runtut dari segenap tahapan prosedur ilniah tersebut, meskipun pada prakteknya tahap-tahap kerja tersebut seringkali dilakukan secara bersamaan (soejono Soemargono, 1976).
a. Observasi, maka yang dimaksudkan adalah bahwa tahapan ini berbuat lebih dari sekedar melakukan pengamatan biasa. Kenyataan empirik yang terjadi maka objeknya diselidiki, dikumpulkan, diidentifikasi, didaftar, dan diklasifikasikan secara ilmiah. Observasi mencari saling hubuingan dari bahan tersebut dan disoroti dalam suatu kerangka ilmiah.
b. Induksi. Pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Induksi dipermudah dengan digunakannya alat-alat bantu matematik dalam merumuskan serta mengumpulkan data-data empirik. Pengukuran secara kuantitatif terhadap besaran-besaran tertentu yang saling berhubungan, maka hubungan tersebut dapat digambarkan dalam simbul matematika. Apabila suatu kejadian terjadi secara berulang-ulang (terjadi keajegan), maka pernyataan umum tersebut memperoleh kedudukan sebagai hukum.
c. Deduksi-deduksi logis, yaitu data-data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Pernyataan sistem semacam ini juga tergantung dipergunakannya pengertian-pengertian operasional tertentu, yaitu bahasa buatan dalam rangka teori ilmiah. Berdasarkan sistem semacam ini dapatlah dijabarkan pernyataan-pernyataan khusus tertentu.
d. Observasi eksperimental, yaitu pernyataan yang telah dijabarkan secara deduktif (secara rasional). Diuji dengan melakukan verifikasi atau klarifikasi secara empirik. Verifikasi atau klarifikasi secara empirik dimaksudkan untuk mngukuhkan pernyataan-pernyataan rasional hasil deduksi sebagai teori. Verifikasi merupakan tahapan untuk mengukuhkan atau menggugurkan pernyataan-pernyataan rasional hasil dari deduksi-deduksi logis.
9. Metode liner memiliki tiga tahap, yaitu persepsi, konsepsi, dan prediksi. Persepsi adalah penangkapan data melalui indra. Konsepsi adalah pengolahan data dan penyusunannya dalam suatu sistem. Prediksi adalah penyimpulan dan sekaligus peramalan.













BAB IV
PETA KONSEP

Metode
Pengertian Metode Metodologi

Ilmu Ilmu Naturwissenschaft
Geisteswissenschaften
Ilmiah
Ilmu yang Ilmiah

Metode Ilmiah

Kesadaran adanya problema

Pengumpulan data
Pola umum
Penertiban data

Pembentukan hipotesis

Penarikan deduksi/kesimpulan dari hipotesis

Metode Vertifikasi
Ilmiah
Observasi

Macam Induksi
Metode Metode
Siklus-empirik Deduksi

Eksperimen

Evaluasi


Metode Persepsi
Liner
Konsepsi

Prediksi



BAB V
KESIMPULAN

Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup tindakan pikiran, pola kerja, cara teknis, dan tata langkah untuk memperoleh pengetahuan atau mengembangkan pengetahuan. Pola umum tata langkah metode ilmiah mencakup Kesadaran akan adanya problema, pengumpulan data, penertiban data, pembentukan hipotesis, penarikan deduksi/kesimpulan dari hipotesis, dan terakhir verifikasi.
Ilmu-ilmu kealaman pada umumnya menggunakan metode siklus-empiris.Metode siklus-empiris terdiri dari 5 tahapan yaitu observasi, induksi, deduksi, eksperimen, dan evaluasi. Ilmu-ilmu sosial dan humanistik pada umumnya menggunakan metode linier dan analisisnya dimaksudkan untuk menemukan arti, nilai dan tujuan. Metode liner memiliki tiga tahap, yaitu persepsi, konsepsi, dan prediksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar